Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 November 2010

0 Membaca Pikiran orang lain dalam kehidupan sehari-hari


Banyak anggapan bahwa membaca pikiran adalah pekerjaan seorangpsikolog, paranormal atau bahkan dukun. Namun, percaya atau tidak, dalamkehidupan sehari-hari, anda semua adalah seorang pembaca pikiran. Sebab, tanpakemampuan untuk mengetahui pikiran serta perasaan orang lain, kita semua takakan mampu menghadapi situasi sosial semudah apapun. Dengan membaca pikiran,kita dapat membuat perkiraan tentang tingkah laku seseorang lalu membuat kitadapat menentukan keputusan berikutnya.
Jika kita melakukan pembacaan ini dengan buruk, dampaknya bisaserius: konflik bisa saja terjadi akibat kesalahpahaman. Contoh yang nyatakesulitan mengenali pikiran dan perasaan orang lain—mindblindness, dapat dilihat pada penyandangautisme, dimana ketidakmampuan tersebut menjadi suatu kondisi yang mengganggu.
Kemampuan membaca pikiran ini, yang oleh William Ickes—profesorpsikologi di University of Texas, disebutsebagai emphatic accuracy.

Darimana asalnya?
Kemampuan (terbatas) kita untuk membaca pikiran menurut Ross Buck–profesorCommunication Sciences di University of Connecticut,memiliki sejarah yang amat panjang. Dikatakannya bahwa, melalui jutaan tahunevolusi, sistem komunikasi manusia berkembang menjadi lebih rumit saatkehidupan juga menjadi lebih kompleks. Membaca pikiran lantas menjadi alatuntuk menciptakan dan menjaga keteraturan sosial; seperti membantu mengetahuikapan harus menyetujui sebuah komitmen dengan pasangan atau meleraiperselisihan dengan tetangga.
Kemampuan ini sendiri muncul sejak manusia dilahirkan.Bayi yang baru lahir lebih menyukai wajah seseorang dibandingkan stimuluslainnya, dan bayi berusia beberapa minggu sudah mampu menirukan ekspresi wajah.Dalam 2 bulan, bayi sudah dapat memahami dan berespon terhadap keadaanemosional dari pengasuhnya. Nancy Eisenberg, profesorpsikologi di Arizona State University dan ahli dalam perkembangan emosional,menuturkan bahwa bayi berusia 1 tahun mampu mengamati ekspresi orang dewasa danmenggunakannya untuk menentukan tingkah laku berikutnya. Lanjutnya, bayi usia 2tahun mampu menyimpulkan keinginan orang lain dari tatapan matanya, dan di usia3 tahun, bayi dapat mengenali ekspresi wajah gembira, sedih atau marah. Saatmenginjak usia 5 tahun, bayi sudah memiliki kemampuan dasar untuk membacapikiran orang lain; mereka telah memiliki “teori pikiran.” Bayi tersebut mampumemahami bahwa orang lain memiliki pemikiran, perasaan dan kepercayaan yangberbeda dengan yang mereka miliki.
Anak-anak tadi mengembangkan kemampuan membaca pikiran denganmengamati pembicaraan orang dewasa, dimana mereka membedakan kompleksitasaturan dan interaksi sosial. Selain itu, kegiatan bermain dengan teman sebaya juga dapat melatih anak untuk membacapikiran anak lainnya. Namun, tak semua anak bisa mengembangkan kemampuan ini.Anak-anak yang mengalami penelantaran dankekerasan cenderung mengalami hambatan dalam mengembangkan kemampuan membacapikiran ini. Sebagai contoh, anak yang dibesarkan dalam keluarga yang penuhdengan kekerasan, mungkin akan jauh lebih peka terhadap ekspresi marah,walaupun sesungguhnya emosi marah tidak muncul.
Lanjut lagi, kemampuan membaca pikiran yanglebih maju biasa muncul pada masa remaja akhir. Hal ini terjadikarena kemampuan untuk menyimpan perspektif dari beberapa orang di saat yangsama—dan lalu mengintegrasikannya dengan pengetahuan kita dan orang yangbersangkutan itu—seringkali membutuhkan kemampuan otak yang sudahjauh berkembang.

Bagaimana Membaca Pikiran?
Membaca bahasa tubuh adalah komponen inti dari membaca pikiran. Lewat bahasa tubuh,kita bisa mengetahui emosi dasar seseorang. Peneliti menemukan bahwa ketikaseseorang mengamati gerak tubuh orang lain, mereka dapat mengenali emosi sedih,marah, gembira, takut dll, bahkan ketika pengamatan hanya dilakukan denganpencahayaan yang minim.
Ekspresi wajah juga merupakan penanda bagikita untuk dapat mengetahui apa yang dipikirkan orang lain. Namun sayangnya,banyak dari kita yang tidak mampu untuk mendeteksi ekpresi ini. Salah satusumber yang kaya akan penanda ini adalah mata seseorang; otot-otot di sekitarmata. Mata seseorang adalah sumber penanda yang paling kaya jika dibandingkanbagian lain yang ada di wajah. Contohnya: mata yang turun ketika sedih, terbukalebar ketika takut, terlihat tidak fokus kala sedang berkhayal, menatap tajampenuh kecemburuan, atau menatap sekitarnya ketika tidak sabar.
Kita dapat semakin tahu pikiran orang lain dari komponen-komponendalam percakapan—kata-kata, gerak tubuh, dan nada suara. Namundiantara ketiganya, Ickes menemukan bahwa isi pembicaraan menjadi komponenterpenting dalam membaca pikiran dengan baik.

Menjadi Pembaca Pikiran Ulung
Lalu, bagaimana kita bisa menjadi seorang pembaca pikiran yanglebih baik? Tim dari Psychology Today telah merumuskan beberapa hal yangbisa membantu kita membaca pikiran.
Kenalilah orang lain. “Kemampuan membaca pikiran akan meningkat, semakin kita mengenallawan bicara kita,” kata William Ickes. Jika kita berinteraksi dengan seseorangselama kurang lebih sebulan, kita akan lebih mudah untuk mengenali apa yang iapikirkan dan rasakan. Hal tersebut dapat terjadi karena: kita mampu mengartikankata-kata dan tidakan orang lain dengan lebih tepat, setelah mengamatinya dalamberbagai situasi; kedua, kita mengetahui apa yang terjadi dalam hidup mereka,dan mampu menggunakan pengetahuan itu untuk memahami mereka dalam konteks yanglebih luas.
Minta umpan balik. Penelitian menunjukkan bahwa kita dapat meningkatkan kemampuanmembaca dengan cara menanyakan kebenaran dari tebakan kita. Misalnya, “Sayamendengar, sepertinya Engkau sedang marah. Benar tidak?”
Perhatikan bagian atas dari wajah. Emosi yang palsu, biasanya diungkapkan pada bagian bawah wajahseseorang. Sedangkan, menurut Calin Prodan—profesorneurologi di University of Oklahoma Health SciencesCenter, emosi utama bisa dilihat dari sebagian ke atas wajah,biasanya di sekitar mata.
Lebih ekspresif. Ekspresivitas emosi cenderung timbal balik. Ross Buck, “semakinkita ekspresif, semakin banyak pula kita akan mendapat informasi mengenaikondisi emosional dari orang lain di sekitar kita.”
Santai. Menurut LaviniaPlonka, pengarang Walking Your Talk, seseorangcenderung “menyamakan diri” dengan lawan bicaranya melalui postur tubuh danpola napas. Jika anda merasa tegang, teman bicara anda bisa saja, secara taksadar, menjadi tegang pula lalu terhambat, dan akhirnya menjadi sulit untukdibaca. Ambillah napas panjang, senyumlah, dan coba untuk menampilkanketerbukaan dan penerimaan kepada siapapun yang bersama anda.

Tinjauan Kritis
Perlu kita ingat, bahwa ekspresi emosi bisa berbeda di berbagaibudaya. Ekspresi sedih di satu budaya, bisa jadidiinterpretasikan sebagai emosi lain di budaya lain. Jadi jika ingin membacaseseorang, kita perlu memperhatikan pula unsur budaya yang berlaku di tempattinggal orang itu, jangan sampai salah menebak, atau bahkan memicu terjadinyakesalahpahaman.
Kita juga tak bisa mengesampingkan fenomena membaca pikiran inisebagai sebuah fenomena yang biasa diasosisasikan dengan kemampuan supranatural,sebab percaya tidak percaya, memang ada orang-orang yang memiliki kemampuanuntuk membaca pikiran yang sulit dijelaskan ilmu pengetahuan. Setidaknyapenulis telah menemukan beberapa orang dengan kemampuan membaca pikiran, yangbahkan mampu melihat masa depan dan berbagai macam hal yang sulit diterimanalar.

Sumber Pustaka
Mind Reading – Psychology Today
How To Be a Better Mind Reader – Psychology Today


0 Sejarah dan Aliran Psikologi


Sejarah Psikologi bahkan ilmu pengetahuan yang kita kenalkebanyakan berpusat dari perkembangan awal sejarah eropa dari masa yunani,romawi hingga akhir abad 19 yang kemudian menyebar ke berbagai belahan dunia. Pendekatandan orientasi ilmu dalam dunia psikologi bermula dari filsafat masa Yunani,yaitu masa transisi dari pola pikir animisime kenatural science, yaitu pengetahuanbersumber dari alam. Pada masa ini perilaku manusia berusaha diterangkanmelalui prinsip-prinsip alam atau prinsip yang dianalogikan dengan gejala alam. Sepanjang masa kekaisaran romawi, perdebatan mengenaimanusia bergeser dari topik kehidupan yang luas, hubungan antara manusia denganlingkungannya /alam, ke arah pemahaman tentang kehidupan secara lebih spesifik,yaitu hubungan antara aspek-aspek di dalam diri manusia itu sendiri. 
MasaRenaisans adalah peralihan masa, dimana pengetahuan bersifat doktrinal di bawahpengaruh gereja berubah ke masa peran nalar. Semangat pencerahan semakin tampaknyata dalam perkembangan science dan filsafat melalui menguatnya peran nalar (reason) dalam segalabidang. Munculnya diskusi tentang. “knowledge”yang menyebabkan perkembangan ilmu dan metode ilmiah yang maju dengan pesat.Penekanan pada fakta-fakta yang nyata daripada pemikiran yang abstrak.(Berdampak pada kajian psikologi sehingga ingin menjadi kajian yang ilmiah danempiris) Pasca Renaisans, Psikologi mencoba menjadi bagian dari ilmu faalmuncul pada abad 19 seiring dengan kemajuan ilmu alam (natural science). Dimanapada fase inilah mulai ada jawaban yang empirik dan ilmiah daripertanyaan-pertanyaan yang kerap muncul di masa lalu seperti: Apa itu jiwa (soul)?Bagaimana bentukkonkritnya? Bagaimana mengukurnya? Bagaimana hubungan body-soul ? SemuaPertanyaan itu terjawab dengan Kemajuan-kemajuan di bidang fisiologis, meliputiriset-riset di bidang aktivitas syaraf , sensasi, dan otak yang memberi dasarempiris dari soul (jiwa), yang juga sebelumnya dianggap sangat abstrak.
Pada akhir abad 19, dengan perkembangan natural science danmetode ilmiah secara mapan sebagaimana diuraikan di bagian sebelumnya, konteksintelektual Eropa sudah “siap” untuk menerima psikologi sebagai sebuah disiplinilmu yang mandiri dan formal.
Tanah kelahiran psikologi adalah Jerman. Oleh karenanyamunculnya psikologi tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial Jerman yangmemiliki misi membentuk manusia berkualitas dan penyedia tenaga kerja yangprofessional. Wilhelm Wundt, orang pertama yang memproklamirkan psikologisebagai sebuah disiplin ilmu. Wundt adalah seorang doktor yang tertarik pada bidangfisiologis, dimana fisiologis merupakan jalan bagi psikologi untuk bisa masukdalam ranah empiris ilmiah dan berdiri sebagai ilmu yang mandiri.
Hingga kemudian kajian ilmu psikologi terbentuk dan berkembangdengan munculnya berbagai macam aliran psikologi. Berikut adalah bentukgambaran dan perkembangan kajian ilmu psikologi:

JERMAN
Psikologi strukturalisme / Eksperimen menekankan pada elemen mental, bahwa mental (jiwa)bisa diempiriskan dengan proses fisiologis

PsikologiGestalt menolak analisis dan penguraian jiwa ke dalamelemen-elemen yang lebih kecil karena dengan demikian, makna dari jiwa itusendiri berubah sebab bentuk kesatuannya juga hilang. Menekankan padafenomenologis dalam aktifitas mental namun tetap empiris. (pindah ke amerikatetapi sulit berkembang akibat aliran behaviorisme)

Psikoanalisa mengikutikeaktifan mental dari Gestalt (Freud dengan psikodinamikanya pada levelkesadaran dan non kesadaran) namun tidak empiris (mencegah bergantung padaempirisme). Tidak seperti ke dua aliran sebelumnya dijerman, psikoanalisaberkembang bukan dari riset para akademisi, tapi berdasarkan pengalaman daripraktek klinis hipnosis dalam menangani pasien histeria.

AMERIKA
Psikologi Fungsionalisme penekananpada fungsi mental bukan hanya penjabaran elemen-elemen mental (fisiologis)

PsikologiBehaviorisme menyatakan bahwa jiwa atau proses mental bisadiempiriskan melalui perilaku nyata bukan fisiologis

Psikologi Humanistik menyumbangkanarah yang positif dan optimis bagi pengembangan potensi manusia, disebutsebagai yang mengembalikan hakikat psikologi sebagai ilmu tentang manusia,perspektif dan metodenya bersumber dari filsafat setelah perang dunia II

Daftar Pustaka
Brennan, James F. 2006. Sejarahdan Sistem Psikologi. Jakarta: PT.RajaGrafindo Persada


0 Psikologi Remaja, Karakteristik dan Permasalahannya



Menurut Hurlock (1981)remaja adalah mereka yang berada pada usia 12-18 tahun. Monks, dkk (2000)memberi batasan usia remaja adalah 12-21 tahun. Menurut Stanley Hall (dalamSantrock, 2003) usia remaja berada pada rentang 12-23 tahun. Berdasarkanbatasan-batasan yang diberikan para ahli, bisa dilihat bahwa mulainya masaremaja relatif sama, tetapi berakhirnya masa remaja sangat bervariasi. Bahkanada yang dikenal juga dengan istilah remaja yang diperpanjang, dan remaja yangdiperpendek.
Remaja adalah masa yangpenuh dengan permasalahan. Statemen ini sudah dikemukakan jauh pada masa laluyaitu di awal abad ke-20 oleh Bapak Psikologi Remaja yaitu Stanley Hall.Pendapat Stanley Hall pada saat itu yaitu bahwa masa remaja merupakan masabadai dan tekanan (storm and stress) sampai sekarang masih banyak dikutip orang.
Menurut Erickson masaremaja adalah masa terjadinya krisis identitas atau pencarian identitas diri.Gagasan Erickson ini dikuatkan oleh James Marcia yang menemukan bahwa ada empatstatus identitas diri pada remaja yaitu identity diffusion/ confussion,moratorium, foreclosure, dan identity achieved (Santrock, 2003, Papalia, dkk,2001, Monks, dkk, 2000, Muss, 1988). Karakteristik remaja yang sedang berprosesuntuk mencari identitas diri ini juga sering menimbulkan masalah pada diriremaja.
Gunarsa (1989) merangkumbeberapa karakteristik remaja yang dapat menimbulkan berbagai permasalahan padadiri remaja, yaitu:
1. Kecanggungan dalampergaulan dan kekakuan dalam gerakan.
2. Ketidakstabilan emosi.
3. Adanya perasaan kosongakibat perombakan pandangan dan petunjuk hidup.
4. Adanya sikap menentangdan menantang orang tua.
5. Pertentangan di dalamdirinya sering menjadi pangkal penyebab pertentangan-pertentang dengan orangtua.
6. Kegelisahan karena banyakhal diinginkan tetapi remaja tidak sanggup memenuhi semuanya.
7. Senangbereksperimentasi.
8. Senang bereksplorasi.
9. Mempunyai banyakfantasi, khayalan, dan bualan.
10. Kecenderungan membentukkelompok dan kecenderungan kegiatan berkelompok.
Berdasarkan tinjauan teoriperkembangan, usia remaja adalah masa saat terjadinya perubahan-perubahan yangcepat, termasuk perubahan fundamental dalam aspek kognitif, emosi, sosial danpencapaian (Fagan, 2006). Sebagian remaja mampu mengatasi transisi ini dengan baik,namun beberapa remaja bisa jadi mengalami penurunan pada kondisi psikis,fisiologis, dan sosial. Beberapa permasalahan remaja yang muncul biasanyabanyak berhubungan dengan karakteristik yang ada pada diri remaja. Berikut inidirangkum beberapa permasalahan utama yang dialami oleh remaja.
Permasalahan Fisik danKesehatan
Permasalahan akibatperubahan fisik banyak dirasakan oleh remaja awal ketika mereka mengalamipubertas. Pada remaja yang sudah selesai masa pubertasnya (remaja tengah danakhir) permasalahan fisik yang terjadi berhubungan dengan ketidakpuasan/keprihatinan mereka terhadap keadaan fisik yang dimiliki yang biasanya tidaksesuai dengan fisik ideal yang diinginkan. Mereka juga sering membandingkanfisiknya dengan fisik orang lain ataupun idola-idola mereka. Permasalahan fisikini sering mengakibatkan mereka kurang percaya diri. Levine & Smolak (2002)menyatakan bahwa 40-70% remaja perempuan merasakan ketidakpuasan pada dua ataulebih dari bagian tubuhnya, khususnya pada bagian pinggul, pantat, perut danpaha. Dalam sebuah penelitian survey pun ditemukan hampir 80% remaja inimengalami ketidakpuasan dengan kondisi fisiknya (Kostanski & Gullone,1998). Ketidakpuasan akan diri ini sangat erat kaitannya dengan distres emosi,pikiran yang berlebihan tentang penampilan, depresi, rendahnya harga diri,onset merokok, dan perilaku makan yang maladaptiv (& Shaw, 2003; Stice& Whitenton, 2002). Lebih lanjut, ketidakpuasan akan body image ini dapatsebagai pertanda awal munculnya gangguan makan seperti anoreksia atau bulimia(Polivy & Herman, 1999; Thompson et al).
Dalam masalah kesehatantidak banyak remaja yang mengalami sakit kronis. Problem yang banyak terjadiadalah kurang tidur, gangguan makan, maupun penggunaan obat-obatan terlarang.Beberapa kecelakaan, bahkan kematian pada remaja penyebab terbesar adalahkarakteristik mereka yang suka bereksperimentasi dan berskplorasi.
Sumber:http://netsains.com/2009/04/psikologi-remaja-karakteristik-dan-permasalahannya/



0 Psikologi Behaviorisme

Sistempsikologi behaviorisme ini merupakan transisi dari sistem sebelumnya? Psikologibehaviorisme memaknai psikologi sebagai studi tentang perilaku dan sistemini mendapat dukungan kuat dalam perkembangannya di abad 20 Amerika Serikat? Dalampandangannya, perilaku yang dapat diamati dan dikuantifikasi memiliki maknanyasendiri, bukan hanya berfungsi sebagai perwujudan peristiwa-peristiwa mentalyang mendasarinya? 
Gerakan ini secara formal diawali oleh seorang psikolog Amerika bernama JohnBroadus Watson (1878-1958) dengan makalahnya berjudul "Psychology asthe Behaviorist Views It" dan dipublikasikan pada tahun 1913?

Watson mengusulkan peralihan dari pemikiran radikal yang membahas perkembanganpsikologi bedasarkan kesadaran dan proses mental? Watson mendukung perilakutampak yang dapat diamati sebagai satu-satunya subjek pembahasan yang masukakal bagi ilmu pengetahuan psikologi? Sistem Watson yang memfokuskan padakemampuan adaptasi perilaku terhadap stimuli lingkungan, menawarkan ilmupsikologi yang positif dan objektif dan pada tahun 1930 behaviorisme menjadisistem dominan dalam psikologi Amerika?

Watson sangat berhasil dalam mengawali perubahan perkembangan psikologi?Sehingga behaviorisme secara bertahap berkembang dari definisi awal watsonmenjadi behaviorisme yang mencakup rangakaian aktivitas manusia daninfra manusia yang luas dan dipelajari melalui beragam metodologi empiris?

Psikologi behaviorisme sebagai disiplin empiris yang mempelajariperilaku sebagai adaptasi terhadap stimuli lingkungan? Inti utama behaviorismeadalah bahwa organisme mempelajari adaptasi perilaku dan pembelajaran tersebutdikendalikan oleh prinsip-prinsip asosiasi?
Pendekatan empiris berdasarkan pengkajian asosiasi dalam psikologibehavioristik yang secara umum mengikuti pendapat para filsuf inggris danjuga konsep locke tentang kepasifan mental yang bermakna bahwa isi pikiranbergantung pada lingkungan?

Psikologi behaviorisme juga berfundamental pada refleksiologi? Meskipunpenelitian tentang perolehan refleks dilakukan sebelum diterbitkannyatulisan-tulisan Watson, karena penelitian ini sebagian besar dilakukan olehpeneliti berkebangsaan rusia seperti Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936)?
Tetapi kelompok ilmuwan rusia tersebut memberikan dampak besar bagibehaviorisme setelah publikasi tulisan-tulisan Watson dan berperan sebagaikekuatan untuk memperluas formulasi aslinya?


Selasa, 23 November 2010

0 Psikologi Gestalt II

KONSEP TEORITIS UTAMA
  • Teori Medan (Field Theory)
Medan diartikan sebagai sistem yang saling terkait secara dinamis, bagian yang satu saling mempengaruhi bagian yang lain. Psikologi gestlat percaya bahwa apa yang terjadi pada seseorang yang akan mempengaruhi sesuatu yang lain pada diri orang itu.
Salah satu tokoh psikologi gestalt yang mengembangkan teori motivasi berdasarkan teori medan adalah Kurt Lewin (1890-1947) Lewin mengatakan bahwa perilaku manusia pada waktu tertentu di tentukan oleh jumlah total dari fakta psikologis pada waktu tertentu. Life space ( ruang kehidupan) seseorang adalah jumlah total dari semua fakta psikologis ini. Kejadian – kejadian tersebut menentukan perilaku yang akan menimbulkan pengaruh positif maupun negatif. Pengalaman tersebut akan menata ulang dan menyebabkan perubahan dalam hidup. Dan sebab-sebab tersebut bersifatdinamis. Jadi teori medan psikologis secara singkat dapat dijelaskan jika seseorang berada dalam mendan pengaruh yang terus menerus berubah, dan satu perubahan dalam satu sebab akan mempengaruhi semua sebab lainya.
  • Nature vs Nurture
Otak individu berperan aktif dalam merubah informasi sensori yang masuk menjadi sesuatu yang berarti dan terorganisasi. Behavioris cenderung melihat otak sebagai penerima pasif yang merespon pada informasi sensoris. Isi dari pikiran adalah sintesis dari pengalaman atas apa yang kita pelajari dari lingkungan.Sedangkan gestaltis cenderung melihat otak sebagai bagian yang aktif berperan sebagai pengubah infomasi sensoris. Otak memiliki sifat alami dalam menata dan memberi makna pada informasi sensoris.
  • Law of  Pragnanz
Hukum Pragnanz dipakai oleh gestaltiz sebagai prinsip pedoman mereka dalam meneliti belajar persepsi dan memori. Kofka (1963 [1935]) mendeskipsikan hukum pragnanz sebagai “penataan psikologis selalu sebaik yang di izinkan oleh lingkungan pengontrolnya”. Ada kecenderungan untuk melihat sesuatu menjadi lebih sederhana, bermakna dan komplit agar pengalaman lebih dapat terorganisir. Individu akan merespon lingkungan lebih bermakna dari kondisi yang sebenarnya. Disini juga dikenal principle of closure (prinsip penutupan atau pengakhiran) yakni individu memiliki tendensi untuk melengkapi pengalaman yang tidak lengkap. Misalnya kita melihat titik titik yang disusun berdekatan sejajar membentuk sebuah garis lurus, maka kita cenderung akan mendeskripsikannya sebagai sebuah garis lurus.
Prinsip-prinsip dalam organisasi persepsi :
  • Figure and ground relationship
Edgar Rubin (1886-1891) menyatakan bahwa ada 2 komponen dalam persepsi yakni figure (komponen dari persepsi yang bersifat dominan dan menjadi pusat perhatian) dan ground (bersifat homogen dan menjadi latar belakang dari figure).
Contohnya, ketika saya melihat Agung sebagai sosok yang pintar dan pendiam di kampus, namun ketika saya melihat agung di sebuah tempat dugem persepsi saya dia adalah seorang yang banyak omong dan pandai bergaul.
  • Principle of proximity
Prinsip yang menjelaskan bahwa bagian-bagian yang berdekatan cenderung dipersepsikan bersama dan akan menjadi satu kelompok dalam persepsi kita.
Contohnya, Agung adalah orang yang modis, maka saya akan mempersepsikan oang orang yang dekat dengan agung adalah orang orang yang modis juga.
  • Principle of similiarity
Prinsip yang menjelaskan bahwa bagian yang serupa cenderung dilihat sebagai suatu kelompok.
Contohnya, ketika saya melihat siswa SMA Trimurti berpakaian seragam mini, maka setiap saya melihat siswa berpakaian mini maka saya akan mempersepsikan bahwa dia siswa SMA Trimurti. Walaupun sebenarnya bukan.
  • Principle of closure
Prinsip yang menjelaskan bahwaadanya kecenderungan kita dalam mempersepsi untuk melengkapi bentuk yang tidak lengkap.
Contohnya,
  • Principle of inclusiveness
Prinsip yang menjelaskan bahwa kelompok yang mengandung stimuli terbesar cenderung akan dilihat lebih mencolok sebagai figur.
Contohnya, ITS dikenal sebagai kampus cowok, padahal tidak semua mahasiswanya adalah lelaki, ada juga sebagian kecil mahasiswa perempuan.
  • Principle of continguity
Prinsip yang menjelaskan bahwastimulus yang mempunyai kontinuitas antara satu dengan yang lain akan lebih diperhatikan menjadi kesatuan tersendiri.
Contohnya, jika kita memperhatikan seseorang yang berpakaian nyentrik dan mencolok di kampus maka seterusnya kita akan mempethatikan dia walaupun dia sedang tidak berpakaian mencolok. Timbul perhatian yang lebih kepada hal khusus tersebut.
  • Principle of common late
Prinsip yang menjelaskan bahwa elemen yang bergerak bersama atau dengan cara serupa akan dikelompokkan menjadi satu kesatuan.
Contohnya jika kita melihat lampu yang berjajar yang dihidupkan secara bergantian akan menimbulkan kesan adanya gerakan.
OTAK DAN PENGALAMAN SADAR
Setiap teori dalam psikologi selalu membahas tentang hubungan tubuh dengan pikiran. Strukturalis meyakini bahwa ada hubungan langsung antara tubuh (sensasi) dengan pikiran (ide yang ditimbulkan oleh sensasi). Ada keyakinan dari para strukturalis bahwa isi pikiran bervariasi sebagai fungsi dari pengalaman sensori, yang disebut epiphenomenalism.
Sedangkan gestaltian, memandang adanya isomorphism (isomorfisme) antara pengalaman psikologis dengan proses yang ada di dalam otak.  Stimulus eksternal menimbulkan reaksi di otak, dan kita merasakan atau mengalami reaksi tersebut saat reaksi itu terjadi di otak. Perbedaan pandangan dengan strukturalis adalah bahwa para gestaltis percaya bahwa otak aktif mengubah stimuli sensoris. Dengan kata lain, kesadaran  manusia sudah berada dalam keadaan yang terorganisasi oleh otak itu sendiri sehngga stimulasi sensorik mempunyai makna tertentu.
Gestaltis menyatakan bahwa aktivitas otak berhubungan secara dinamis dengan isi pemikiran serta kekuatan pikiran ditentukan secara genetik. Karena teori “pikiran aktif” dan genetik tersebut, maka gestaltis termasuk aliran nativis serta mereka termasuk penganut tradisi Plato, Descartes, dan Kant
PRINSIP BELAJAR GESTALT
Masalah                       disequilibrium kognitif
Dorongan menemukan solusi
Pre solution Period      : konsep trialand error
Insightful Learning
  • Disequillibrium Kognitif Sebagai Kekuatan Motivasional
Para psikolog gestalt memandang bahwa suatu disekuilibrium kognitif mengandung unsur motivasional yang menyebabkan organisme berusaha untuk mendapatkan kembali keseimbangan dalam sistem mentalnya. Gestaltis setuju dengan pendapat Guthrie dan Hull bahwa problem akan memunculkan stimuli atau dorongan yang terus ada sampai problem terpecahkan, dan setelah terpecahkan dorongan tersebut akan berkurang. Bluma Zeigarnik menyatakan adanya tedensi untuk mengingat tugas yang belum selesai dengan lebih baik daripada tugas yang sudah di selesaikan yang disebut denganZeirganik Effect. Jadi dapat disimpulkan bahwa aktifitas otak cenderung pada keseimbangan atau equilibrium sesuai hukum pragnanz. Kecenderungan ini berlangsung terus menerus smpai ada sesuatu yang “mengganggu”, misalnya masalah gangguan keseimbangan ini menimbulkan motivasi untuk menyelesaikan masalah.
  • Periode Pra solusi
Konsep ini dapat dijelaskan dengan disequillibrium sebagai trial and error secara kognitif. Menurut gestaltis, organisme menguji sejumlah hipotesis dengan cara yang paling efektif untuk memecahkan problem. Gestalt lebih menekankan pada prinsip kognitif trial and error bukan pada behavior trial and error.
  • Insightful learning (belajar berwawasan)
Insightful learning adalah bagaiman akita memahami masalah, bukan merupakan sebuah ilham yang datang secara tiba-tiba. Terdapat dua proses dalam insightful learning ini yakni :
-          Recognize situation : pemahaman akan situasi dan masalah.
Detout problems : problem solving atau pemecahan masalah.
  • Transposisi
belajar terjadi melalui proses transposisi yakni ketika satu prinsip pemecahan masalah dalam satu situasi diaplikasikan kedalam problem lain. Menurut behavioris pandangan mereka tentang koneksi S-R pada proses belajar disebut sebagai absolute theory. Sedangkan gestalt lebih menekankan perbandingan antara dua stimuli dan pendapatnya disebut Relational theory.
PEMIKIRAN PRODUKTIF
Wertheimer tertarik untuk mengaplikasikan prinsip gestalt ke pendidikan. Dalam bukunya yang berjudulproductive thinking Wertheimer mengeksplorasi sifat dari pemecahan masalah dan tekhnik yang digunakan untuk mengajarkannya yakni pemikiran produktif itu sendiri.
Wertheimer mengontraskan memorisasi tanpa berfikir mendalam dengan pemecahan problem berdasarkan prinsip gestalt. Dalam memorisasi itu, pembelajar mempelajari fakta atau  aturan tanpa benar-benar memahaminya. Proses belajar itu akan berlangsung kaku, mudah terlupakan dan dapat diaplikasikan hanya pada situasi yang terbatas. Tetapi, belajar sesuai prinsip gestalt didasarkan pada pemahaman dan terhakikat dari problem. Belajar semacam itu berasal dari dalam individu dan tidak dipaksakan oleh orang lain, akan mudah di generalisasikan dan diingat dalam jangka waktu yang lama.
Wertheimer menekankan poin yang sama berkali-kali. Yakni, belajar berdasarkan pemahaman akan lebih dalam dan dapat lebih di generalisasikan  dari pada belajar yang hanya berdasarkan ingatan tanpa pemahaman. Sesorang harus melihat struktur atau hakikat dari suatu problem dan harus melakukannya sendiri agar dpat memahaminya.
JEJAK INDIVIDUAL VS SISTEM JEJAK
Koffka (1963 [1935]) berusaha menghubungkan masa lalu dan masa sekrang melalui konsep memory trace (jejak memori). Ia mengasumsikan bahwa pengalaman saat ini akan membangkitkan apa yang disebutnya proses memori. Ketika proses ini berhenti, jejak dari efeknya masih tertinggal di otak. jejak ini akan mempengaruhi semua proses serupa yang terjadi di masa depan. Semakin kuat jejak memori semakin kuat pengaruhnya pada sebuah proses. Koffka juga mengatakan adanya prinsip kebaruan (recency) yang menyatakan bahwa apa yang dilakukan terakhir kali oleh indiidu dalam suatu situasi nanti akan dilakukan lagi apabila situasi itu berulang.
Berbagai jejak individual yang saling terkait disebut trace system (sistem jejak).Koffka menyatakan bahwa kualitas keseluruhan dari keterampilan akan mendominasi jejak individual dan karenanya menyebabkan hilangnya individualitas. Karena sisitem jejak makin kuat, sistem itu akan berpengaruh besar terhadap setiap pengalaman individual yang kita punya. Jadi,penekanan prinsip gestalt adalah keseluruhan dari pengalaman dan pengingatan kembali pengalaman.
PENDAPAT PSIKOLOGI GESTALT MENGENAI PENDIDIKAN
Gestalt berpendapat bahwa problem yang tidak selesai akan menimbulkan ambiguitas atau ketidakseimbangan organisasional dalam pikiran siswa dan ini adalah kondisi yang tidak diinginkan.pengertian ambiguitas dapat dilihat sebagai teori gestalt yang sejajar dengan penguatan kaum behavioris. Akan tetapi, reduksi ambiguitas dapat dianggap sebagai penguat intrisik, sedangkan behavioris biasanya lebih menekankan pada penguat eksternal atau ekstrinsik.
Brunner dan Holt menganut gagasan Gestaltian bahwa belajar adalah memuasakan secara personal dan tidak perlu di dorong-dorong oleh penguatan eksternal. Salah satu tekhnik pembelajaran yang menggunakan konsep gestalt adalah dengan menggunakan tekhink ceramah ( lecture ).
KONTRIBUSI
Kontribusi penting dari gestalt adalah kritiknya pada pendekatan molekuler atau atomistik dari behaviorisme S-R. Psikolog Gestalt mengemukakan bahwa otak secara otomatis mengubah dan menata pengalaman, menambah kualitas yang tidak ada dalam pengalaman inderawi. Fokusnya pada konsep transposisi dan insightful learning menjadikan gestalt sebagai perhatian utama dari psikologi kognitif kontemporer.
KRITIK
Sikap aliran behavioristik dianggap terlalu dominan terhadap teori belajar gestalt itulah mengapa gestalt tidak pernah menduduki posisi pertama dalam teori belajar.
Daftar Pustaka
Hergenhahn, B.R. (1997). An Introduction to Theories of Learning. N.J.:P.-Hall,

Senin, 22 November 2010

0 Psikologi Gestalt

A. Bagaimana sejarahnya?
Max Wertheimer (1880-1943) seorang yang dipandang sebagai pendiri dari Psikologi Gestalt, tetapi ia bekerjasama dengan dua temannya, yaitu Kurt Koffka (1886-1941) dan Wolfgang Kohler (1887-1967). Ketiga tokoh ini mempunyai pemikiran yangsama atau searah. Kata Gestalt sesungguhnya sudah ada sebelum Wertheimer dan kawan-kawan menggunakannya sebagai nama. Palland (dari Belanda) mengatakanbahwa pengertian Gestalt sudah pernah dikemukakan pada jaman Yunani Kuno.Menurut Palland : Plato dalam uraiannya mengenai ilmu pasti (matematika), telah menunjukkan bahwa dalam kesatuan bentuk terdapat bagian-bagian atau sifat-sifat yang  tidak terdapat (tidak dapat terlihat) pada bagian-bagiannya.Watson sebagai tokoh aliran behaviorisme menentangWundt (strukturalisme),  sementara itu di Jerman juga terjadi arus yang menentang apa yang dikemukakan oleh Wundt dan Tithecener atau kaum strukturalis pada umumnya, yaitu aliran Gestalt yang dipelopori oleh Max Wertheimer dengan artikelnya “On Apparent Movement”, yang terbit pada tahun 1912. Aliran ini juga menentang aliran behaviorisme yang mempunyai pandangan yang elementaristik. Menurut Gestalt, baik strukturalisme maupun behaviorisme kedua-duanya melakukan kesalahan, yaitu karena mengadakan atau menggunakan reductionistic approach, keduanya mencoba membagi pokok bahasan menjadi elemen-elemen.Strukturalisme mereduksi perilaku dan berpikir sebagai elemen dasar, sedangkan behaviorisme mereduksi perilaku menjadi kebiasaan (habits), respons berkondisi atau secara umum dapat dikemukakan hubungan stimulus-respon. Aliran Gestalt tidak setuju mengenai reduksi ini. Pandangan pokok psikologi Gestalt adalah berpusat bahwa apa yang dipersepsi itu merupakan suatu kebulatan, suatu unity atau suatu Gestalt. Psikologi Gestalt semula memang timbul berkaitan dengan masalah persepsi, yaitu pengalaman Wertheimer di stasiun kereta api yang disebutnya sebagai phi phenomena. Dalam pengalaman tersebut sinar yang tidak bergerak dipersepsi sebagai sinar yang bergerak (Garret, 1958). Walaupun secara objektif sinar itu tidak bergerak. Dengan demikian maka dalam persepsi itu ada peran aktif dalam diri perseptor. Ini berarti bahwa dalam individu mempersepsi sesuatu tidak hanya bergantung pada stimulus objektif saja, tetapi ada aktivitas individu untuk menentukan hasil persepsinya. Apa yang semula terbatas pada persepsi, kemudian berkembang dan berpengaruh pada aspek-aspek lain, antara lain dalam psikologi belajar. Bagi para ahli pengikut Gestalt, perkembangan itu adalah proses diferensiasi.Dalam proses diferensiasi itu yang primer adalah keseluruhan, sedangkan bagian-bagian adalah sekunder, bagian-bagian hanya mempunyai arti sebagai bagian daripada keseluruhan dalam hubungan fungsional dengan bagian-bagian yang lainnya, keseluruhan ada terlebih dahulu baru disusul oleh bagian-bagiannya. Bila kita bertemu dengan seorang teman misalnya, dari kejauhan yang kita saksikan terlebih dahulu bukanlah bajunya yang baru atau pulpennya yang bagus, atau dahinya yang terluka, melainkan justru teman kita itu sebagai keseluruhan, sebagai Gestalt; baru kemudian menuyusul kita saksikan adanya hal-hal khusus tertentu seperti bajunya yang baru, pulpennya yang bagus, dahinya yang terluka, dan sebagainya.
B. Apa itu GESTALT ?
Setelah membaca ringkasan yang cukup panjang dari sejarahnya, kita dapat memahami teori Gestalt secara singkat bahwa Psikologi Gestalt merupakan salah satu aliran psikologi yang mempelajari suatu gejala sebagai suatu keseluruhan atau totalitas, data-data dalam psikologi Gestalt disebut sebagai phenomena (gejala). Phenomena adalah data yang paling dasar dalam Psikologi Gestalt. Dalam hal ini Psikologi Gestalt sependapat dengan filsafat phenomonologi yang mengatakan bahwa suatu pengalaman harus dilihat secara netral. Dalam suatu phenomena terdapat dua unsur yaitu obyek dan arti. Obyek merupakan sesuatu yang dapat dideskripsikan, setelah tertangkap oleh indera, obyek tersebut menjadi suatu informasi dan sekaligus kita telah memberikan arti pada obyek itu.
C. Siapa saja Tokoh –tokoh Gestalt ?
1. Max Wertheimer (1880-1943)
Max Wertheimer adalah tokoh tertua dari tiga serangkai pendiri aliran psikologiGestalt. Wertheimer dilahirkan di Praha pada tanggal 15 April 1880. Ia mendapat gelar Ph.D nya di bawah bimbingan Oswald Kulpe. Antara tahun 1910-1916, ia bekerja di Universitas Frankfurt di mana ia bertemu dengan rekan-rekan pendiri aliran Gestalt yaitu, Wolfgang Kohler dan Kurt Koffka. Bersama-sama dengan Wolfgang Koehler (1887-1967) dan Kurt Koffka (1887-1941) melakukan eksperimen yang akhirnya menelurkan ide Gestalt. Tahun 1910 ia mengajar di Univeristy of Frankfurt bersama-sama dengan Koehler dan Koffka yang saat itu sudah menjadi asisten di sana. Konsep pentingnya : Phi phenomenon, yaitu bergeraknya objek statis menjadi rangkaian gerakan yang dinamis setelah dimunculkan dalam waktu singkat dan dengan demikian memungkinkan manusia melakukan interpretasi. Weirthmeir menunjuk pada proses interpretasi dari sensasi obyektif yang kita terima. Proses ini terjadi di otak dan sama sekali bukan proses fisik tetapi proses mental sehingga diambil kesimpulan ia menentang pendapat Wundt. Wertheimer dianggap sebagai pendiri teori Gestalt setelah dia melakukan eksperimen dengan menggunakan alat yang bernama stroboskop, yaitu alat yang berbentuk kotak dan diberi suatu alat untuk dapat melihat ke dalam kotak itu. Di dalam kotak terdapat dua buah garis yang satu melintang dan yang satu tegak. Kedua gambar tersebut diperlihatkan secara bergantian, dimulai dari garis yang melintang kemudian  garis yang tegak, dan diperlihatkan secara terus menerus. Kesan yang muncul adalah garis tersebut bergerak dari tegak ke melintang. Gerakan ini merupakan gerakan yang semu karena sesungguhnya garis tersebut tidak bergerak melainkan dimunculkan secara bergantian. Pada tahun 1923, Wertheimer mengemukakan hukum-hukum Gestalt dalam bukunya yang berjudul “Investigation of Gestalt Theory”. Hukum-hukum itu antara lain :
a) Hukum Kedekatan (Law of Proximity)
b) Hukum Ketertutupan ( Law of Closure)
c) Hukum Kesamaan (Law of Equivalence)
2. Kurt Koffka (1886-1941)
Koffka lahir di Berlin tanggal 18 Maret 1886. Kariernya dalam psikologi dimulai sejak dia diberi gelar doktor oleh Universitas Berlin pada tahun 1908. Pada tahun 1910, ia bertemu dengan Wertheimer dan Kohler, bersama kedua orang ini Koffka mendirikan aliran psikologi Gestalt di Berlin. Sumbangan Koffka kepada psikologi adalah penyajian yang sistematis dan pengamalan dari prinsip-prinsip Gestalt dalam rangkaian gejala psikologi, mulai persepsi, belajar, mengingat, sampai kepada psikologi belajar dan psikologi sosial. Teori Koffka tentang belajar didasarkan pada anggapan bahwa belajar dapat diterangkan dengan prinsip-prinsip psikologi Gestalt. Teori Koffka tentang belajar antara lain: 
a. Jejak ingatan (memory traces), adalah suatu pengalaman yang membekas di otak. Jejak-jejak ingatan ini diorganisasikan secara sistematis mengikuti prinsip-prinsip Gestalt dan akan muncul kembali kalau kita mempersepsikan sesuatu yang serupa dengan jejak-jejak ingatan tadi.
b. Perjalanan waktu berpengaruh terhadap jejak ingatan. Perjalanan waktu itu tidak dapat melemahkan, melainkan menyebabkan terjadinya perubahan jejak, karena jejak tersebut cenderung diperhalus dan disempurnakan untuk mendapat Gestalt yang lebih baik dalam ingatan.
c. Latihan yang terus menerus akan memperkuat jejak ingatan.
3. Wolfgang Kohler (1887-1967)
Kohler lahir di Reval, Estonia pada tanggal 21 Januari 1887. Kohler memperoleh gelar Ph.D pada tahun 1908 di bawah bimbingan C. Stumpf di Berlin. Ia kemudian pergi ke Frankfurt. Saat bertugas sebagai asisten dari F. Schumman, ia bertemu dengan Wartheimer dan Koffka. Kohler berkarier mulai tahun 1913-1920, ia bekerja sebagai Direktur stasiun “Anthrophoid” dari Akademi Ilmu-Ilmu Persia di Teneriffe, di mana pernah melakukan penyelidikannya terhadap inteligensi kera. Hasil kajiannya ditulis dalam buku betajuk The Mentality of Apes (1925). Eksperimennya adalah : seekor simpanse diletakkan di dalam sangkar. Pisang digantung di atas sangkar. Di dalam sangkar terdapat beberapa kotak berlainan jenis. Mula-mula hewan itu melompat-lompat untuk mendapatkan pisang itu tetapi tidak berhasil. Karena usaha-usaha itu tidak membawa hasil, simpanse itu berhenti sejenak, seolah-olah memikir cara untuk mendapatkan pisang itu. Tiba-tibahewan itu dapat sesuatu ide dan kemudian menyusun kotak-kotak yang tersedia untuk dijadikan tangga dan memanjatnya untuk mencapai pisang itu. Menurut Kohler apabila organisme dihadapkan pada suatu masalah atau problem, aka akan terjadi ketidakseimbangan kogntitif, dan ini akan berlangsung sampai masalah tersebut terpecahkan. Karena itu, menurut Gestalt apabila terdapat ketidakseimbangan kognitif, hal ini akan mendorong organisme menuju ke arah keseimbangan. Dalam eksperimennya Kohler sampai pada kesimpulan bahwa organisme –dalam hal ini simpanse– dalam memperoleh pemecahan masalahnya diperoleh dengan pengertian atau dengan insight.
4. Kurt Lewin (1890-1947)
Pandangan Gestalt diaplikasikan dalam field psychology oleh Kurt Lewin. Lewin lahir di Jerman, lulus Ph.D dari University of Berlin dalam bidang psikologi thn 1914. Ia banyak terlibat dengan pemikir Gestalt, yaitu Wertheimer dan Kohler dan mengambil konsep psychological field juga dari Gestalt. Pada saat Hitler berkuasa Lewin meninggalkan Jerman dan melanjutkan karirnya di Amerika Serikat. Ia menjadi professor di Cornell University dan menjadi Director of the Research Center for Group Dynamics di Massacusetts Institute of Technology (MIT) hingga akhir hayatnya di usia 56 tahun.Mula-mula Lewin tertarik pada paham Gestalt, tetapi kemudian ia mengkritik teoriGestalt karena dianggapnya tidak adekuat. Lewin kurang setuju dengan pendekatan Aristotelian yang mementingkan struktur dan isi gejala kejiwaan. Ia lebih cenderung Searah pendekatan Galilian, yangmementingkan fungsi kejiwaan,utama Lewin adalah Life Space, yaitu lapangan psikologis tempat individu berada dan bergerak. Lapangan psikologis ini terdiri dari fakta dan obyek psikologis yang bermakna dan menentukan perilaku individu (B=f L). Tugas utama psikologi adalah meramalkan perilaku individu berdasarkan semua fakta psikologis yang eksis dalam lapangan psikologisnya pada waktu tertentu. Life space terbagi atas bagian-bagian yang memiliki batas-batas. Batas ini dapat dipahami sebagai sebuah hambatan individu untuk mencapai tujuannya. Gerakan individu mencapai tujuan (goal) disebut locomotion. Dalam lapangan psikologis ini juga terjadi daya (forces) yang menarik dan mendorong individu mendekati dan menjauhi tujuan. Apabila terjadi ketidakseimbangan (disequilibrium), maka terjadi ketegangan (tension). Salah suatu teori Lewin yang bersifat praktis adalah teori tentang konflik. Akibat adanya vector-vector yang saling bertentangan dan tarik menarik, maka seseorang dalam suatu lapangan psikologis tertentu dapat  mengalami konflik (pertentangan batin) yang jika tidak segera diselesaikan dapat mengakibatkan frustasi dan ketidakseimbangan. Berdarkan kepada vector yang saling bertentangan itu. Lewin membagi konflik dalam 3 jenis:
a) Konflik mendekat-mendekat (Approach-Approach Conflict)
Konflik ini terjadi jika seseorang menghadapi dua obyek yang sama-sama bernilai positif
b) Konflik menjauh-menjauh (Avoidance-Avoidance Conflict) 
Konflik ini terjadi kalau seseorang berhadapan dengan dua obyek yang sama-sama mempunyai nilai negative tetapi ia tidak bisa menghindari kedua obyek sekaligus. 
c) Konflik mendekat-menjauh (Approach-Avoidance Conflict) 
Konflik ini terjadi jika ada satu obyek yang mempunyai nilai positif dan nilai negative sekaligus.
E.Bagaimana Aplikasi Prinsip Gestalt?
1. Belajar
Proses belajar adalah fenomena kognitif. Apabila individu mengalami proses belajar, terjadi reorganisasi dalam perceptual fieldnya. Setelah proses belajar terjadi, seseorang dapat memiliki cara pandang baru terhadap suatu problem. Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain :
a. Pengalaman tilikan (insight) : bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa.
b. Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning) : kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang dipelajari.
c. Perilaku bertujuan (purposive behavior) bahwa perilaku terarah pada tujuan. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons, tetapi ada keterkaitannya dengan tujuan yang ingin dicapai. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. Oleh karena itu, guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya.
d. Prinsip ruang hidup (life space) : bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada. Oleh karena itu, materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik.
e. Transfer dalam Belajar yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. Menurut pandangan Gestalt, transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tatasusunanyang tepat. Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. 
2. Insight
Pemecahan masalah secara jitu yang muncul setelah adanya proses pengujian berbagai dugaan/kemungkinan. Setelah adanya pengalaman insight, individu mampu menerapkannya pada problem sejenis tanpa perlu melalui proses trial-error lagi. Konsep insight ini adalah fenomena penting dalam belajar, ditemukan oleh Kohler dalameksperimen yang sistematis. Timbulnya insight pada individu tergantung pada :
a. Kesanggupan
Kesanggupan berkaitan dengan kemampuan inteligensi individu.
b. Pengalaman
Dengan belajar, individu akan mendapatkan suatu pengalaman dan pengalaman itu akan menyebabkan munculnya insight.
c. Taraf kompleksitas dari suatu situasi
Semakin kompleks masalah akan semakin sulit diatasi
d. Latihan
Latihan yang banyak akan mempertinggi kemampuan insight dalam situasi yang bersamaan
e. Trial and Error
Apabila seseorang tidak dapat memecahkan suatu masalah, seseorang akan melakukan percobaan-percobaan hingga akhirnya menemukan insight untuk memecahkan masalah tersebut.
3. Memory
Hasil persepsi terhadap obyek meninggalkan jejak ingatan. Dengan berjalannya waktu, jejak ingatan ini akan berubah pula sejalan dengan prinsip-prinsip organisasional terhadap obyek. Penerapan Prinsip of Good Form seringkali muncul dan terbukti secara eksperimental. Secara sosial, fenomena ini juga menjelaskan pengaruh gosip/rumor. Fenomena gossip seringkali berbeda dengan fakta yang ada. Fakta yang diterima sebagai suatu informasi oleh seseorang kemudian diteruskan kepada orang lain dengan dengan dilengkapi oleh informasi yang relevan walaupun belum menjadi fakta atau belum diketahui faktanya.
4. Implikasi Gestalt
a. Pendekatan fenomenologis : menjadi salah satu pendekatan yang eksis di psikologi dan dengan pendekatan ini para tokoh Gestalt menunjukkan bahwa studi psikologi dapat mempelajari higher mental process, yang selama ini dihindari karena abstrak, namun tetap dapat mempertahankan aspek ilmiah dan empirisnya. Fenomenologi memainkan peran yang sangat penting dalam sejarah psikologi. Heidegger adalah murid Edmund Husserl (1859-1938), pendiri fenomenologi modern. Husserl adalahrid Carl Stumpf, salah seorang tokoh psikologi eksperimental “baru” yang muncul di Jerman pada akhir pertengahan abad XIX. Kohler dan Koffka bersama Wertheimer Yang mendirikan psikologi Gestalt adalah juga murid Stumpf, dan mereka menggunakan fenomenologi sebagai metode untuk menganalisis gejala psikologis. Fenomenologi adalah deskripsi tentang data yang berusaha memahami dan bukan menerangkan gejala-gejala. Fenomenologi kadang-kadang dipandang sebagai suatu metode pelengkap untuk setiap ilmu pengetahuan, karena ilmu pengetahuan mulai dengan mengamati apa yang dialami secara langsung.
b. Pandangan Gestalt menyempurnakan aliran behaviorismedengan menyumbangkan untuk menggali proses belajar kognitif, berfokus pada higher mental process.Adanya perceptual field diinterpretasikan menjadi lapangan kognitif dimana prosesproses mental seperti persepsi, insight,dan problem solving beroperasi. Tokoh :Tolman (dengan Teori Sign Learning) dan Kohler (eksperimen menggunakan simpanse sebagai hewan coba).
F. Hukum – hukum Belajar Gestalt
Dalam hukum-hukum belajar Gestalt ini ada satu hukum pokok , yaitu hukum Pragnaz, dan empat hukum tambahan (subsider) yang tunduk kepada hukum yang pokok itu, yaitu hukum–hukum keterdekatan, ketertutupan, kesamaan, dan kontinuitas.Hukum Pragnaz,Pragnaz adalah suatu keadaan yang seimbang. Setiap hal yang dihadapi oleh individu mempunyai sifat dinamis yaitu cenderung untuk menuju keadaan pragnaz tersebut. Empat hukum tambahan yang tunduk kepada hukum pokok, yaitu :
1. Hukum keterdekatan 
Hal-hal yang saling berdekatan dalam waktu atau tempat cenderung dianggap sebagai suatu totalitas
2. Hukum ketertutupan 
Hal-hal yang cenderung menutup akan membentuk kesan totalitas tersendiri.
3. Hukum kesamaan 
Hal-hal yang mirip satu sama lain, cenderung kita persepsikan sebagai suatu kelompok atau suatu totalitas. Contohnya :
O O O O O O O O O O O O O
X X X X X X X X X X X X X
O O O O O O O O O O O O O
Deretan bentuk di atas akan cenderung dilihat sebagai deretan-deretan mendatar dengan bentuk O dan X berganti-ganti bukan dilihat sebagai deretan-deretan tegak. 
4. Hukum kontinuitas 
Orang akan cenderung mengasumsikan pola kontinuitas pada obyek-obyek yang ada.
G. Penerapan Teori Gestalt dalam Proses Belajar
Sebelum membahas teori Gestalt dalam proses belajar ada baiknya membahas prinsip-prinsip belajar menurut teori ini yaitu:
a. Belajar berdasarkan keseluruhan 
Orang berusaha menghubungkan pelajaran yang satu dengan pelajaran yang lainnya.
b. Belajar adalah suatu proses perkembangan 
Materi dari belajar baru dapat diterima dan dipahami dengan baik apabila individu tersebut sudah cukup matang untuk menerimanya. Kematangan dari individu dipengaruhi oleh pengalaman dan lingkungan individu tersebut.
c. Siswa sebagai organisme keseluruhan 
Dalam proses belajar, tidak hanya melibatkan intelektual tetapi juga emosional dan fisik individu.
d. Terjadinya transfer 
Tujuan dari belajar adalah agar individu memiliki respon yang tepat dalam suatu situasi tertentu. Apabila satu kemampuan dapat dikuasai dengan baik maka dapat dipindahkan pada kemampuan lainnya.
e. Belajar adalah reorganisasi pengalaman
Proses belajar terjadi ketika individu mengalami suatu situasi baru. Dalam menghadapinya, manusia menggunakan pengalaman yang sebelumnya telah dimiliki.
f. Belajar dengan insight
Dalam proses belajar, insight berperan untuk memahami hubungan diantar unsur-unsur ang terkandung dalam suatu masalah.
g. Belajar lebih berhasil bila berhubungan dengan minat
keinginan dan tujuan siswa Hal ini tergantung kepada apa yang dibutuhkan individu dalam kehidupan sehari-hari, sehingga hasil dari belajar dapat dirasakan manfaatnya.
h. Belajar berlangsung terus-menerus 
Belajar tidak hanya terjadi di sekolah, tetapi juga di luar sekolah. Belajar dapat diperoleh dari pengalaman-pengalaman yang terjadi dalam kehidupan individu setiap waktu.

MIND MAP OF GESTALT CONSEPS

<klik pada gambar untuk memperbesar>







 

Bukan Ariesta Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates